Yah kisah ini kau alamin sendiri,
mungkin juga akan dialami kalian-kalian di masa-masa persiapan
pernikahan. Dari pengalaman pribadi sampai curhatan dan nasihat oleh
beberapa teman yang juga pernah dan sedang berada di posisi
pernikahan, yupppss... betul banget tidak ada persiapan menikah yang
berjalan mulus tanpa ada sedikit halangan tapi yakinilah setelah kita
berhasil melewati itu semua pasti kebahagiaan akan menunggu kita di
depan Aamiin.
Memang masa ini adalah masa yg paling
sensitif dan cenderung menyebabkan stress, apalagi ornag nya susah
dibawa nyantai. Konflik-konflik diantara kita dan calon suami kadang
terjadi karena hal sepele.
1. Kapan akan menikah? Kapan akad? Kapan resepsi?
Sesaat setelah terbang melayang karena datang pertanyaan
“would
you marry me” dari sang pujaan hati, maka akan muncullah
serentetan pertanyaan lanjutan, tentang kapan? Sebagaimana pemuda
usia 20-30an yang sedang senang-senangnya menikmati dan merencanakan
kehidupan, setiap kita pasti punya plan hidup masing-masing. Dan
mungkin jaaauh sebelum lamaran itu datang, kita sudah merencanakan,
kapan harus pindah kerja, kapan harus menikah, kapan harus punya
anak, kapan harus kuliah lagi, dan serentetan perencanaan hidup yang
mungkin akan terusik dengan satu kalimat
“would you marry me”.
Hei, tapi apakah benar kata itu merusak plan kita? Hm, jangan
panik dulu, semuanya kan bisa dikomunikasikan. Sebelum bernegosiasi
untuk menyesuaikan plan hidup masing-masing, kenali dulu seperti apa
siy calon pasangan kita? Apa dia punya prinsip-prinsip khusus yang
gak bisa dilanggar? Misalnya ada beberapa tipe suami yang tidak
memperbolehkan istrinya bekerja, atau suami yang ingin istrinya
selalu ada disisinya dan berbagai macam tipe lainnya yang mungkin
akan membuat negosiasi menjadi alot, kudu sabar dan cari pilihan kata
yang baik kalo begini mah.. :)
Sebelumnya tekankan dulu dalam fikiran kita, kita sedang ingin
berkompromi tentang plan hidup, jadi kita tidak boleh memaksakan
kehendak, harus ada hal-hal yang dikorbankan antara kita dan dia,
tujuan utamanya itu adalah mencapai kondisi ideal dimana hal yang
saling kita korbankan menjadi minimal, ditambah saran-saran yang
solutif dari kita. Misalkan saja, sejak tahun lalu sebelum berencana
untuk menikah, aq sudah berencana bahwa tahun ini aq harus kuliah.
Tapi karena aq juga mungkin kerja, maka aq harus mengambil
perkuliahan di malam hari atau weekend. Hal ini cukup berat karena
pastinya, aq tidak bisa terus mendampingi calon suami yang kadang
hanya available saat weekend, aq harus saving untuk biaya kuliah, dan
mungkin calon suami juga pengen, tapi belom bisa karena kondisi
pekerjaan yang belom stabil. bisa cari kerjaan yang lebih stabil dan
fokus ngurus rumah tangga. :)
Ada lagi nih kasus yang unik,
mungkin hanya terjadi di
Indonesia. Masih ada orang tua yang pengen anaknya nikahnya
di tanggal atau hari baik, yang dicarinya susah, mesti pake
hitung-hitungan gitu. Kalo gak nemu tanggalnya tahun ini, ya kamu
nikahnya tahun depan, kalo gak nemu lagi ya tahun depannya lagi..
Haaaah…susah amat ya mau nikah aja.. **suara hati
si anak** Nah, untuk kasus kaya gini, butuh pendekatan yang
ekstraaaaa sama orang tua/calon mertua kita. Bagaimanapun menikah itu
kan menggabungkan dua keluarga, bukan cuma urusan kita dan calon
suami saja. Kita juga membawa nama keluarga kita, jadi segala macam
masalah kaya gini harus diselesaikan, jangan dibiarkan atau
parah-parahnya kita bersikap frontal dan malah menimbulkan masalah
baru di kemudian hari. Solusinya, pahamkan dulu masalah dasar
penentuan hari pernikahan. Harusnya yang lebih diperhatikan untuk
menjadi dasar penentuannya adalah masalah availabilitas kedua
keluarga, dan keadaan finansial (jika ingin resepsi). Kalo dapet hari
baik
(yang entah gimana ngitungnya) tapi calon suami
kita harus pergi keluar kota atau itu waktu hectic-hectinya kerjaan
sehingga kita atau orang tua susah cuti kan jadi gak maksimal juga
nanti acaranya. Pahamkan juga kalau, menurut pandangan islam, lebih
baik menyegerakan pernikahan jika sudah ada kesepakatan dari kedua
belah pihak.
2. Uangnya Cuma Ada Segini..
Ini masalah basic yang hampir dialami semua calon pengantin,
apalagi yang usianya masih 20an dan belum begitu mapan. Belajar dari
pengalaman, beberapa kasus pernikahan yang pernah aq konsultasikan
dengan orang tua dan beberapa teman terbentur pada masalah pembiayaan
pernikahan. Sebagian orang mungkin bisa dengan santai bilang, tenang
aja masih bisa pinjem kok. Tapi..hei..hei… masa hidup baruku
dimulai dengan hutang,
naudzubillah. Jadi Ayahku sejak awal
tegas sama aq kalau misalnya memang ada adakan resepsi, kalau enggak
ya gak usah. Seadanya aja, kan walimah itu sunnah, yang wajib toh
akadnya. Tapi mungkin gak semua orang tua beranggapan seperti itu.
Dalam beberapa kasus, orang tua tetap ingin mengadakan resepsi
pernikahan anaknya, dengan pertimbangan
pride dan
silaturahim terhadap saudara dan tetangga. Hal ini harus kita pahami
juga, sebisa mungkin, selama masih bisa dipenuhi dan tidak melanggar
hukum ya kenapa enggak. Mudah-mudahan kita bisa dapet pahala
sunnahnya :)
Masalah pembiayaan resepsi menurut survei akan menghabiskan
sekitar 70% dari proses pernikahan itu sendiri. Jadi, karena judulnya
adalah dana terbatas, maka kita harus pintar-pintar niy memanage
pengeluaran yang
honestly suka gak sadar dipake buat apa
aja. Caranya ya dengan mempersiapkan dengan baik rencana resepsi
pernikahan kita. Hal yang harus dianalisis di awal perencanaan
adalah, kira-kira pos apa yang akan memakan biaya paling besar dalam
rencana pernikahan kita.
Kalau jarak antara rumah kita dan calon suami cukup jauh, biaya
transportasi akan menjadi hal yang costing. Kalau peserta yang mau
ikut ke acara walimah gak bisa dikurangi berarti cara lainnya adalah
kita harus pilih waktu yang efektif untuk mengurangi biaya
transportasi ini. Misalnya menunggu saat yang tepat untuk dapat
membeli tiket pesawat economy promo (kadang harus sabar biar dapet
yang bener-bener murah, mungkin nanti bisa dishare deh tips-tips
mencari pesawat murah :))
Ya Alhamdulilah nya aku jarak rumah kami sangatlah berdekatan
hehehe
Aku sangat beruntung memiliki calon suami dan calon mertua seperti
mereka, karena honestly aku tidak mempunyai keluarga besar dan tidak
memiliki seorang ibu semua respsi pernikahan di urus oleh calon suami
dan keluarga besar dari calon suami . Yah nampak nya mereka sudah
cukup paham akan kondisi ku betapa bersyukurnya hamba ya Alloh :)
Masalah selanjutnya adalah hidup setelah menikah, beberapa teman
mengaku stress memikirkan bagaimana bisa hidup berdua dengan suami
setelah tau pendapatan per bulan si suami, apalagi jika si calon
suami melarang si calon istri untuk bekerja setelah menikah.
Hey..hey.. calon ibu-ibu…itulah fungsinya kita sebagai seorang
istri, mendisiplinkan pengeluaran kita dan suami, untuk bisa hidup
lebih baik. Kuncinya mungkin, banyak-banyak bersyukur, manajemen
pengeluaran yang baik, kurangi atau hindari hutang, usahakan walaupun
sedikit tetap menabung, dan jangan lupa bayar zakat :D, karena dengan
mengeluarkan hak orang lain dari pendapatan kita, harta kita insya
Allah akan lebih berkah.
3. Kok kayanya aku terus siy yang riweuh
“Aq capek tau! kayanya aq terus yang ribet, kamunya
tenang-tenang aja”
Waaah, pernah pengen tereak kaya gitu? wajar sih, apalagi kalo
lagi menstruasi, hehe. Jujur aja, masalah persiapan pernikahan itu
gak simpel, bener-bener diuji kesabaran abis-abisan deh. Secara
psikologis, otak wanita itu memang lebih ribeeet daripada kaum
lelaki, jadi wajar kalau para wanita ini mikirin sesuatu lebih ribet
daripada cowok.
Misalnya aja waktu milih undangan,
test food atau
seserahan, mungkin si cowok lebih prefer mikir, uang ada berapa,
butuh berapa banyak, ada percetakan yang harganya segitu, ya udah.
Tapi mungkin kalo cewek mikir lebih ribet, kaya aq pengen undangannya
warna ini biar senada sama warna kebaya aq, terus pengennya harganya
yang segini, kalau bisa lebih murah, jadilah survei kesana-kesini
yang mungkin buat cowok hal kaya gitu itu
ribet.
Solusinya, bikin
timeline dan bagi
jobdesk.
Pisahkan tugas yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri dan yang harus
dikerjakan berdua. Misalnya untuk pesan undangan dan souvenir, karena
cewek lebih pemilih dan keberadaan cowok gak begitu berati, mungkin
lebih baik kalau diserahkan aja sama cewek biar lebih puas milihnya.
Untuk urusan logistik acara, susunan acara, koordinasi dengan pengisi
acara dan lobbying mungkin bisa dilakukan oleh cowok. Tapi, walaupun
dikerjakan sendiri-sendiri, sebisa mungkin tetap ada komunikasi
walapun cuma sekedar pemberitahuan. Karena udah sepakat saling
percaya sama hasil tugas yang dibagi jangan terlalu mengusik tugas
yang lain, nanti kalau ada masalah, baru dipikirin sama-sama
solusinya.
Tapi yang paling penting dari semuanya adalah rasa percaya dan
ikhlas. Ketika hendak menikah, memangnya apa yang kita inginkan?
tentu saja keharmonisan rumah tangga kan? Jika tidak dimulai dari
sekarang, yang mungkin hanya masalah-masalah kecil, bagaimana kita
menghadapi permasalahan rumah tangga yang mungkin lebih kompleks dari
saat ini. Secara umum laki-laki itu lebih logis dan egois, jadi gak
ada salahnya kita mengalah dan membicarakan semuanya kembali dengan
fikiran yang jernih. Kalau ada masalah karena sensitifitas kita, ya
harus secepatnya kita sadari.
Buat para cowok juga, secara umum cewek itu lebih sensitif, jadi
di masa-masa persiapan pernikahan ini cobalah beri perhatian yang
lebih, mungkin satu atau dua sms sehari yang menanyakan kabar cukup
untuk menenangkan hati si calon istri. Karena kebanyakan kasus di
masa-masa ini wanita akan semakin sering meragukan si calon suami.
Pertanyaan-pertanyaan seperti
“Apa bener aq harus nikah sama
dia”, “
Apa nanti aq bisa hidup sama dia”, “Apa bener
dia cinta sama aq, selalu aq duluan yang sms” dan banyak
pertanyaan-pertanyaan meragukan lainnya.
Salah
satu penyakit kronis wanita itu adalah, senang bertanya pertanyaan
yang menyakiti diri sendiri, seperti pertanyaan di atas itu,
hehe…
Waaah, panjang sekali postinganq kali ini…mudah-mudahan berguna,
dan kalau ada salah-salah kata dan saran, silahkan dikritisi dan mari
berdiskusi, karena aq juga belum benar-benar melewati semua masa ini…
hehe….
hadits Rasulullah SAW:
“Tiga hal yang tidak boleh diperlambat: sholat bila
sudah waktunya, jenazah bila sudah didatangkan, dan gadis bila sudah
menemukan calon suami yang sekufu.” (HR At-Tirmidzi)
Hai Para Lelaki Segeralah Melamar Pasangan Mu
:)